June 26, 2006
Keblingsatan
<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Dalam keblingsatan
nafsu manusia untuk menguasai dan melakukan penindasan atas nama
kemuliaan cinta, nama menghargai dan nama kejujuran.
Darahku akan mendidih dan
mengalir begitu deras
Mengeraskan lenganku
dan jari-jariku yang begitu keras meremas sebilah pedang
Tulangku akan membatu dan
memutih seperti buih
Dan berdiri kaku tegak tak
gentar aku menerjang dan menghadang
Kepalaku akan terbangun
dari tidurnya dan tergerak cepat menikam mangsa
Gigiku laksana
taring tajam dan akan mengkoyak-koyak sekujur hayatmu
Otot-otot otakku akan
mendengus keras dan cepat berjelagakan kekejian tak berupa
Ketika semua kepala
telah terpenggal dan berpasungkan logam keras
Ketika semua tubuh telah
terhamburkan bagai debu-debu di langit
Ketika tak lagi ada
manusia yang berani memandang bengis wajahku
Ketika tak lagi ada
manusia yang berani menyebut namaku dengan hina dan kebencian
Maka semua
kepalsuan, kekhilafan, kejahatan, dan kemurkaan telah berakhir
Bukalah jalan untukku tak
lagi selebar pematang
Tapi menepilah sebab
diseberang sana keabadian akan hidup
Aku akan
mengakhirinya dengan kemuliaan dalam setiap butir darahku
Hingga kebenaran
akan terkuak meriak dalam jerit, nafas dan tajam belati bola mataku
Walau aku tak lagi
ada untukmu
Tapi harum wangi
buih darahku akan terbenam bersamamu
Dan hidupku yang singkat
akan menumbuhkan
Tunas kemuliaan dan
bukan lagi kebenaran yang palsu
Puisi Salatiga 2003 - 2004
Bangku Kuliah Perguruan Tinggi
Filed by seehngojennaca at 1:13 am under Uncategorized
No Comments