Keblingsatan

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Dalam keblingsatan
nafsu manusia untuk menguasai dan  melakukan penindasan atas nama
kemuliaan cinta, nama menghargai dan nama kejujuran.

Darahku akan mendidih dan
mengalir begitu deras

Mengeraskan lenganku
dan jari-jariku yang begitu keras meremas sebilah pedang

Tulangku akan membatu dan
memutih seperti buih

Dan berdiri kaku tegak tak
gentar aku menerjang dan menghadang   

Kepalaku akan terbangun
dari tidurnya dan tergerak cepat menikam mangsa

Gigiku laksana
taring tajam dan akan mengkoyak-koyak sekujur hayatmu

Otot-otot otakku akan
mendengus keras dan cepat berjelagakan kekejian tak berupa

Ketika semua kepala
telah terpenggal dan berpasungkan logam keras

Ketika semua tubuh telah
terhamburkan bagai debu-debu di langit

Ketika tak lagi ada
manusia yang berani memandang bengis wajahku

Ketika tak lagi ada
manusia yang berani menyebut namaku dengan hina dan kebencian   

Maka semua
kepalsuan, kekhilafan, kejahatan, dan kemurkaan telah berakhir

Bukalah jalan untukku tak
lagi selebar pematang

Tapi menepilah sebab
diseberang sana keabadian akan hidup

Aku akan
mengakhirinya dengan kemuliaan dalam setiap butir darahku

Hingga kebenaran
akan terkuak meriak dalam jerit, nafas dan tajam belati bola mataku

Walau aku tak lagi
ada untukmu

Tapi harum wangi
buih darahku akan terbenam bersamamu

Dan hidupku yang singkat
akan menumbuhkan

Tunas kemuliaan dan
bukan lagi kebenaran yang palsu

Puisi Salatiga 2003 - 2004
Bangku Kuliah Perguruan Tinggi

Prengus

&amp;lt;!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–&amp;gt;

PRENGUS

 

 

Ketika,

Waktu mengikis,

Takkan terlukis,

Semua telah pupus,

Akankah semua terhapus,

Khilaf  terus menerus,

Hingga aku mampus,

Tak terurus,

Prengus,

 

 

Singo_jenaka @Yahoo.com

28 Oktober 2002

Purple Cute Heny Sweet Room

 

 

 

Hidup !!! kuhajar Selangkanganmu

aku pernah ……. merasakan jemu, 

tiap hari hanyalah segala-sesuatu yang sama saja kelihatannya, tidak ada yang berubah. Pembaharuan sebaiknya menjadi raja di sini (waktu itu). Aku menantikannya selalu. bahkan merindukannya.

Kawan,   

aku menghajar selangkangan yang hampir sama setiap harinya dan menggunakan cara yang sama untuk memporakporandakannya. Derai tawa dan Pisuhan berterbangan hingga ke lorong-lorong bersama kawan; di sore hari hingga menjelang pagi. 

Huh, walau begitu berat akhirnya, aku menghempaskannya

aku ingin perubahan, dan ketika aku menyeberang selat tampaklah harapan akan perubahan sepertinya akan datang ……                                                          

Dan kini datang …….. semua harapan. 3 bulan aku datang menggenapi semua harapan. Belajar mungkin menjadi pilar untuk aku hidup di sini. Setiap hari masih terasa baru bagiku. Indah boleh dikata. Terima kasih.

Belajar berbeda, melihat perbedaan, mendengar perbedaan. Semua baru dan berbeda. Tuhan aku mencintai perbedaan.

Ijinkan aku menikmati rasa ini, semangat belajar ini, lebih lama ……