Cucian Kita

<!–
@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0.21cm }
–>

Dulu kala,

Di ruangan ini tak ada makluk hidup

Dan hanya oksigen yang menyusup

Dan menghuni kehampaan dan kekosongan

Kini

Kami hidup dan bersanding dengan pahit
dan getirnya hidup

Dengan segala kerakusan akan kebebasan
yang begitu mencekam

Walau kadang

Harus diakui dalam keramaian dan
hirukpikuknya hidup kami

Hati kecil tetap saja merasa sepi dan
sendiri

Sesaat dimana kata-kata begitu usang
dan berjelaga  di sudut-sudut ruangan

Sesaat dimana kebodohan dan kekonyolan
tak lagi menggetarkan gigi-gigi dan rahang kami

Sesaat dimana tak lagi kami punya bekal
dan perut kamipun sakit

Sesaat kami terasing dalam harapan kami
yang bisu tak berkesudahan

Sesaat kemudian tiba-tiba hujan dan
bertubi-tubi berusaha sekuat tenaga membuyarkan semua lamunanku !

Cucian cucian oei….. cucian mas
tolong cucianku mas !

Singo jenaka dalam lamunan

Maret 2005 yang menyesakkan dada

laki laki 1 dan laki laki 2

<!–
@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0.21cm }
H1 { margin-top: 0cm; margin-bottom: 0cm; text-align: center }
H1.western { font-family: "Nimbus Roman No9 L", serif; font-size: 18pt }
H1.cjk { font-family: "Nimbus Sans L"; font-size: 18pt }
H1.ctl { font-family: "Nimbus Sans L"; font-size: 12pt }
–>

Laki-laki
1

Tak
hanya bajumu yang ingin kukoyak-koyak

Tapi
juga tubuh putihmu dan hatimu yang polos

Tak
hanya bayi yang inginkan payudaramu dan air susumu

Tapi
juga manusia besar dan bengis seperti kami

Kami
minta rintihan perih dan darah yang mengucur dari bibirmu

Dan
bila pagi menjemput ingin kusepak bokongmu dan kuabaikan engkau
tersungkur 

Laki-laki
2

Lama
aku menunggu engkau sayang

Tuk
berbincang tentang moral dan kebengisan cinta

Pabila
akhirnya engkau ada disini 

Akan
kutambatkan kedua belah tanganmu di ranjangku yang merah

Tak
sengaja rokmu terungkap hingga kulihat samar-samar rahasia status
masyarakatmu

Kurisau
lihat geliat kasarmu dan kejet-kejet tubuhmu

Kutangkap
engkau sedang berteriak tentang kebebasan

Tak
akan lebih jauh aku menyakitimu, sayang

Aku
hanya ingin resapi desah dan deru makimu

Bila
letih, tidurlah saja sayang dan tak usah kau jaga aura tubuhmu

Malam
itu kuingin menuliskan keindahan cinta kedalam sebuah novel sambil
sesekali melirik gelisah tubuhmu yang meludahi isi otakku

Ditulis
oleh :

Singo_jenaka_yang_tidak_cabul

On
July 23, 2004

At
village of literature

Jendela dunia dan binatang kecil

<!–
@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0.21cm }
–>

Walau
hari tak semakin menjauh tuk lupakan semua tragedi

apakah wajah lama
akan selalu mengusik ?

hingga kini masih
saja mendekat semua yang letih

dan merintih
kesakitan

Akupun tak ingin
semuanya terbunuh oleh ketidakberdayaan

Jika
hanya duduk saja

menatap
sebuah jendela dunia yang semakin menjulang tak tergapai

atau
sebuah binatang kecil dari pantai sepi

yang
lekat dengan kaum miskin kota dan intelektuil muda berbakat

Sesungguhnya
tak ingin aku menggali kuburku sendiri bersama engkau

Atau
terbunuh oleh kesepian bersamamu

 


Singo_jenaka 1 Maret 2005