November 24, 2006
si penjual koran
dalam setiap bulan aku bekerja
3 minggu diantaranya aku harus terpanggang matahari dan debu
1 minggunya aku harus INHOUSE dalam ruang berAC
tak hanya itu aku harus bekerja dikala semua orang kebanyakan tertidur pULAs zzzzzzzzzz…
di pagi hari,
jarak yang harus ku harus tempuh untuk sampai ke kost, kurang lebih 10 km
jarak tersebut aku tempuh dengan sepeda motor .
udara pagi begitu segar dan segala hiruk pikuk orang-orang di pagi hari, sedikit melegakan
biasanya pagi hari adalah saat perutku mulai berteriak ….lapeeeeerrr! begitu bunyinya
dan aku selalu singgah warung yang kutemui di jalan,
minggu ini seleraku sepertinya mendarat pada warung bubur ayam di pasar besar dekat sungai besar pula
entah apa nama pasar nya aku ndak tahu, aku juga malas tuk mengingatnya ….. apalagi mencari plangnya!
tradisi aku makan bubur ayam termasuk tradisi yang hampir punah di bali, sehingga aku memilih untuk
menetap di sana, sekedar nostalgia dengan kebiasaan lamaku di Salatiga.
entah kenapa pada jam yang sama aku mampir dan makan selalu bertemu dengan orang yang sama persis, yakni jam 06.15 WITA. aku ada dia juga ada, siapa dia itulah penjaja koran.
pada pertemuan pertama :
aku dan dia makan bersama tanpa sepatah katapun keluar dari mulut kami kecuali untuk si penjual untuk membayar ongkos ganti rugi bubur yang telah kita makan.
pada pertemuan kedua :
kami makan bersama pula dan maseeh tanpa kata, tapi kami sudah saling menatap heran dan tersenyum malu. Dan setelah itu kami harus membayar lagi ganti rugi bubur ayam yang telah kami makan, sejenak kemudian dia pergi meninggalkan diriku sendiri, aku maseeh harus membakar tembakau yang mengotori ujung mulutku. dan setelah itu giliran aku yang harus membayar ganti rugi bubur ayam yang telah aku makan.
pada pertemuan ketiga :
kami tetap bertemu dan kami juga tetap makan bersama bubur ayam itu, yang pada akhirnya kamipun harus membayar gantirugi bubur ayam yang telah kami makan kepada pemilik dan pembuatnya. pagi itu kami tak lagi sekedar diam, manatap dan tersenyum, tapi kami sudah mulai berbicara satu sama lain, dan si pemilik bubur ayam tidak ikut-ikut sepertinya dia sibuk karema banyak bubur ayamnya dimakan orang. tau apa topik yang kita bicarakan ? aku yakin topiknya pasti anda tau, jadi ndak usah saya ceritakan ya, karena sudah tahu. kemudian bergegas dia pergi, karena sedikit tersita waktunya untuk berbicara dengan aku. tetapi sebelumnya dia harus membayar lagi ganti rugi bubur ayam yang dia makan, dan kamipun mulai berpamitan ramah sekali. sejenak setelah rokokku habis akupun maseh harus membayar gantirugi untuk kesekian kalinya karena aku telah makan bubur ayam buatannya.
pertemuan keempat:
belum terjadi, tapi aku yakin itu akan terjadi, setelah aku selesai menulis new post ini 1 jam lebih 15 menit lagi aku pasti bertemu dengannya, dan kamipun harus membayar ganti rugi bubur ayam yang kami makan, tetapi ada yang tidak KUYAKINI yakni tentang topik pembicaraannya? kira-kira apa ya? kalo topiknya sama seperti kemarin pasti tidak mungkin …. ya ndak? akh …. nanti saja easy going saja, ndak usah dipikirin …
nanti aku lanjutkan lagi ceritanya; topiknya apa? khan?
oke, tulisan ini isenk sekali, segumpal rasa cinta terhadap waktu dan peristiwa, rasa cinta untuk pagi yang indah, udara yang dingin dan sejuk, dan salam dariku bagi mereka yang hidup dengan bekerja keras, bangun subuh-subuh, makan bubur dan harus menganti rugi bubur ayam yang telah mereka makan pula.
hik ….
seengo_jennaca
Filed by seehngojennaca at 1:15 pm under Uncategorized
nice